Instagram

Follow @raniayuna

Friday, May 29, 2020

Secuplik kisah Homeschooling Mama Rani dan Kakak Gibran






Assalamualaikum,

Dulu banget punya impian bisa jadi guru buat anak-anak alias homeschooling! tapi terpentok harus bekerja dan budaya di keluarga yang belum pernah ada namanya homeschooling. Nah, ternyata tidak disangka-disangka ada pandemi virus yang mengharuskan para orang tua semuanya menjadi guru bagi anak-anak di rumah hmm berarti bisa dikatakan homeschooling kan ya versi darurat?

Yipeee i'am happy! bisa terwujud cita-cita jadi pengajar untuk anak-anakku. Tapi.. realita tidak seindah mimpi saya hahaha. Minggu-minggu awal kakak homeschooling, mamanya menemani jarak jauuuh Jogja-Bekasi! Sedangkan si papa minggu awal kakak homeschooling masih kerja on-off alias belum work from home secara penuh. Alhasil mama yang lagi sidang profesi di Jogja juga harus ikut berpartisipasi mandu kakak belajar terpontang panting rasanya saat itu. Emosi naik turun dan pikiran nggak bisa fokus. Wah nggak bisa nih kalau kaya gini dan harus atur strategi.

Pertama, yang saya lakukan waktu itu saya harus penuhi dulu kebutuhan saya dan tuntaskan kewajiban di Jogja Terdengar selfish ya? karena mamanya mentingin diri sendiri dulu. Menurut saya, kebutuhan ibu itu harus dipenuhi dulu lho supaya ibu sehat fisik dan mental sehingga bisa mendampingi anak-anak dengan bahagia. Jadi, saat itu betul-betul fokus menyelesaikan sidang profesi sebaik-baiknya dan H+1 sidang langsung ngebut mengerjakan revisi sesuai catatan dosen pembimbing! iya se-ngebut itu memang demi apa? demi segera selesai dan pulang ke Bekasi menemani anak dan suami.

Minggu-minggu awal itu, saya berusaha sefleksibel mungkin nggak mau ngotot semua harus ideal dan tentunya memberi kepercayaan penuh ke suami untuk menemani belajar dan mengerjakan tugas. Saat suami harus pulang agak malam maka tugas baru bisa dikirim ke guru juga malam jadinya nggak papa yang penting tugas terkumpul dan masih di batas waktu yang diberikan sekolah. Pernah suatu kali, saya ada waktu luang di sela-sela mengerjakan revisi jadi ada kesempatan menemani kakak hafalan surat pendek yang aku pandu secara online dari Jogja by phone, tentunya menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Sekembalinya dari Jogja, rasanya percaya diri banget bisa fokus nemenin kakak homeschooling toh revisian sudah dikirim ke dosen pembimbing nanti kalau ada balasan email tinggal nerusin revisi sambil jalan. Shock kedua terjadi! saat belajar dengan mama yang jadi guru, si anak merasa ini adalah zona nyamanku maka ia bisa seenak hati dan penuh dengan negosiasi.

"Ma.. kok banyak tugasnya (sambil ngitung jumlah lembaran soal)"
"Ma.. hafalannya nanti malam aja ya habis Isya"
"Ma.. aku main dulu deh baru ngerjain ya"
"Ma.. jam main hp ditambah ya"
dan seterusnya

Rehat di sela belajar bareng

Kadang diri ini juga nggak sabar apalagi kalau udah adek ikut ngerengek minta main. Dududu perlu strategi tambahan ini.

Strategi pertama dengan mencukupi kebutuhan ibu dulu tetap aku jalani. jadi, sebelum mulai menemani anak belajar saya mandi dulu, sarapan dulu, balas-balas email/wa yang urgent baru fokus ke anak. Cara ini membantu membangun mood lho. Bayangkan ketika harus menemani anak belajar badan nggak segar, lapar, kepikiran email yang belum dijawab? bikin ruwetkan? Jadi penuhi dulu well being diri sendiri ya.

Nah, ini adalah strategi-strategi berikutnya yang aku temukan dan aku rasa efektif  setelah sekian hari bersama anak 24 jam seperti:
  1.  Jam efektif atau prime timenya anak bisa fokus belajar. Setiap anak pasti berbeda-beda prime timenya apakah pagi/siang/sore/malam jadi kenali lagi anak kita prime timenya kapan?
  2. Keteraturan. Penting banget setelah tahu prime time anak buat jadwal teratur karena yang aku temui ketika jadwal acak-acakan membuat anak bingung dan moodnya jadi jelek. Misal, saat anak lagi main tiba-tiba diajak belajar membangun moodnya akan susah sekali. Berbeda jika, anak sudah paham ada jadwal tertentu yang sudah disepakati bersama misal jadwal pagi belajar dulu kemudian main, makan dan seterusnya tentu akan lebih mudah bagi anak beraktivitas.
  3. Buat catatan. Awal-awal sempat kaget ketika diberikan list materi dari guru khawatir ada yang terlewat. Ini satu tips sederhana tapi membantu meringankan beban pikiran dan keruwetan versi saya ya. Jadi, setiap ada wa masuk dari guru untuk tugas di hari itu langsung saya catat dalam suatu buku sehingga meringankan beban pikiran untuk mengingat-ingat. Setelah selesai satu tugas maka berikan checklist dan seterusnya.
  4. Rehat. Berdasarkan pengalaman saya saat kita mendorong anak segera menyelesaikan tugas bisa membuat anak tertekan dan terbebani yang terjadi hasil belajar menjadi tidak optimal. Maka, rehat sejenak disela belajar itu penting banget. Lihat tanda-tanda anak mulai jenuh biasanya saya menawarkan rehat sejenak untuk makan cemilan atau membaca buku cerita sebentar tetapi sampaikan bahwa setelah rehat kita mengerjakan tugas lagi ya.
  5. Komunikasi dengan guru. Ketika ada pelajaran yang susah dimengerti anak sampaikan saja apa adanya kepada guru. Insya allah guru sudah banyak pengalamannya mengajar berbagai karakter anak-anak bertahun-tahun. Ibu-ibu tidak perlu merasa bersalah dan down ketika gagal mengajarkan suatu pelajaran karena memang ceritanya jadi guru dadakan ya kan? 
  6. Apresiasi dan libatkan anak menentukan reward. Berikan apresiasi kepada anak setelah menyelesaikan tugasnya dengan pelukan dan cium anak kita. Sampaikan juga terima kasih sudah kooperatif belajar sama mama. Nah, kalau anak saya biasanya minta gadget untuk reward. Jika sebelumnya berusaha banget gadget hanya di weekend karena memang weekday gadget (HP) tidak tersedia di rumah karena dibawa papa mamanya bekerja. Di situasi sekarang, saya berusaha lebih fleksibel namun tetap ada aturannya. Dalam satu hari maksimal sekian jam jadi gadget diset setelah waktu habis maka akan terkunci otomatis. Penggunaan waktu ini saya berikan keleluasan ke kakak untuk mengatur biasanya dia mencicil memakai waktu "me time" nya tersebut. Pernah suatu ketika, sepertinya kakak tidak puas dan ingin menambah. Saya mengajaknya bernegosiasi dan membuat kesepakatan tambahan. Bisa ada waktu tambahan asal "..." dan waktunya hanya ".." Nah ini disesuaikan apa baiknya tentunya para orang tua lebih paham ya. Kalau hasil kesepakatan saya dan kakak adalah boleh menambah asal "mengaji sekian lembar" dengan tambahan waktu "sekian menit". Intinya adalah libatkan anak untuk membuat kesepakatan bersama jadi anak merasa memiliki tanggung jawab atas pilihannya. Sungguh sangat berbeda ketika yang disampaikan anak adalah sekedar perintah demi perintah tanpa ada hak anak untuk berpendapat. 
Adek juga nggak mau kalah ikutan homeschooling

Oke, sepertinya ini adalah secuplik pengalaman saya ketika membersamai kakak yang saat ini kelas 1 SD homeschooling di rumah. Semoga bermanfaat bagi para ibu dan para bapak. Tetap semangat, stay safe, stay healthy and stay happy.

Xoxo,
Rani Ayuna



No comments:

Post a Comment