Instagram

Follow @raniayuna

Thursday, April 30, 2020

Menulis sebagai Self Healing

Source: Pexels

Beberapa hari ini saya penasaran sekali dengan yang namanya Writing Therapy. Saya dapat info kalau salah satu teman yang seringkali merasa depresi mendapatkan efek yang positif sekali setelah melakukan journaling setiap harinya. Wah Sebagus itukah dampaknya?

Akhirnya saya mencoba search di Google Scholar ternyata ada 2.5 juta jurnal yang membahas tentang writing therapy, ternyata populer juga riset ini ya. Awal mula dari terapi menulis ini dikenalkan oleh Pennebaker di tahun 1986.

Kalau saya ingat-ingat jaman remaja dulu suka nulis diary sih sampai ada gemboknya supaya nggak dibaca orang lain hehe cuma dulu masih nulis-nulis aja tanpa tahu ternyata dampaknya ke psikologis sepositif itu.

Oke kita mulai bahas yuk.

Hasil dari baca-baca ternyata sejumlah penelitian sudah mengakui bahwa dengan menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam seseorang tentang gejolak emosi dapat secara positif mempengaruhi kesehatan mental dan fisik. Rupanya proses menulis menjadi salah satu tools yang dapat meregulasi emosi yang maladaptif dan memiliki healing power juga. Seseorang yang sedang dalam kondisi depresi cenderung menekan pikiran dan perasaannya dengan adanya terapi menulis menjadi salah satu saluran untuk menuangkan apa yang menjadi bebannya.

Pada salah satu riset terapi menulis, peserta yang depresi diminta untuk menulis tentang pengalaman yang membuat marah secara emosional selama 15-20 menit sehari selama 3-4 hari berturut-turut ternyata hasilnya mereka membuat lebih sedikit kunjungan ke dokter, menunjukkan peningkatan fungsi kekebalan tubuh, peningkatan fungsi biologis dari stress/penyakit lain, peningkatan perilaku, berkurangnya absensi dari pekerjaan, dan mampu bekerja kembali setelah kehilangan pekerjaan sebelumnya. Wow menarik ya?

Lebih lanjut lagi, terapi ini berhasil jika seseorang benar-benar menuliskan perasaan terdalamnya (the deepest) bukan sekedar menuliskan narasi kejadian dari suatu peristiwa (ini berbeda lho). Jadi, benar-benar fokus pada emotional content-nya.

Sisi terapeutik dari menulis sendiri adalah adanya kelegaan karena sudah mengeluarkan emosi yang menyesakkan di dalam diri kita, menerima bahwa kita memiliki emosi tersebut (ya kita merasa sedih/marah/takut saat ini), dan selanjutnya acceptance bahwa merasakan emosi tersebut adalah hal yang wajar dialami manusia dan hal tersebut bukan hanya pada diri kita karena orang lain pun juga merasakan hal yang sama.

Dengan menulis, kita dapat merefleksi diri, lebih mengenal emosi yang ada dalam diri kita, mengklarifikasi suatu peristiwa sehingga membuka pikiran untuk melihat secara lebih objektif dan lebih jernih. Yaa bisa diibaratkan kita sedang menguraikan benang-benang yang kusut ya.

Namun, menulis ini tidak hanya untuk emosi negatif kita juga bisa menuliskan emosi positif  lho. Kita bisa mengawali menulis bagaimana indahnya pagi ini sehingga merasa nyaman dan damai. Inti dari menulis yang terapeutik adalah kita menghentikan kegiatan kita  sejenak dan merefleksi diri. Kita meminta izin kepada diri kita sendiri untuk masuk ke dalam dan mengetahui dimana posisi pikiran dan perasaan kita. Hal yang menyenangkan dari menulis adalah kita memiliki kebebasan untuk mengungkapkan apapun tanpa harus terbebani untuk menyenangkan orang lain, kita bisa menjadi diri kita di ruang kita sendiri dan efeknya kita menjadi lega setelahnya.

Di akhir sesi menulis jurnal pribadi, saya senang mengakhiri tulisan saya dengan kata-kata afirmasi positif dan memberi semangat untuk diri sendiri.

Mau mencoba?

Xoxo,
Rani Ayuna

Reference:
Gortner, E.-M., Rude, S. S., & Pennebaker, J. W. (2006). Benefits of Expressive Writing in Lowering Rumination and Depressive Symptoms. Behavior Therapy, 37(3), 292–303. doi: 10.1016/j.beth.2006.01.004
Kathleen Connolly Baker & Nicholas Mazza (2004) The healing power of writing: applying the expressive/creative component of poetry therapy, Journal of Poetry Therapy, 17:3, 141-154, DOI: 10.1080/08893670412331311352
Marcus, P. H. (2017). Getting Write Into Therapy. Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 56(5), 367–368. doi: 10.1016/j.jaac.2017.01.020






















No comments:

Post a Comment