Instagram

Follow @raniayuna

Wednesday, September 9, 2020

Happy Breastfeeding: Bincang seputar post-partum deppression, Makna sukses menyusui, serta ASI bernutrisi

8:40:00 AM 4 Comments

Pengalaman menyusui bagi saya merupakan salah satu pengalaman yang tidak dapat dilupakan. Jika ditanya sukseskah meraih gelar S1 Asi (6 bulan)? S2 Asi (1 tahun)? atau mencapai S3 Asi (2 tahun)?

 

Bagi saya setelah menjalani perjalanan meng-ASIhi pada dua anak, persepsi saya tentang keberhasilan menyusui tidak lagi dimaknai sesederhana dan sesimple seberapa lama seorang ibu berhasil menyusui anaknya tetapi bagaimana seorang ibu bisa meng-ASIhi dengan bahagia, tenang dan tanpa adanya tekanan. Ya.. kebahagiaan ibu penting karena menular kepada bayi dan anggota keluarga yang lain.

 

 

Ok sebelum membahas lebih lanjut seputar meng-ASIhi rasanya perlu bagi setiap ibu mengetahui adanya kondisi kritikal di awal periode post-partum yang dapat mempengaruhi kondisi ibu dan anak selanjutnya. 


Periode post-partum atau setelah melahirkan merupakan titik kritis dan high risk time terjadinya depresi. Dalam suatu riset "baby blues" dialami sebanyak 50% ibu baru jika tidak dikelola dengan baik maka dapat menimbulkan risiko jangka panjang pada anak baik secara kognitif maupun perilaku (Miller, 2002). Hal penting lainnya, apabila gejala depresi muncul di awal periode post-partum terbukti menurunkan prevalensi menyusui (Hatton dan Dorato, 2005).

 

Beck (2001) menjabarkan penyebab post-partum deppresion sangat beragam seperti prenatal depression (kondisi stress sebelum kelahiran), self esteem (konsep diri negatif bisa karena perubahan bentuk tubuh, perubahan aktivitas, dst), childcare stress (pengasuhan anak), prenatal anxiety (kecemasan sebelum kelahiran anak), life stress (stress dari kehidupan sehari-hari misal kesulitan mengatur waktu, tidak memiliki sumber daya memadai dst), social support (kurangnya dukungan dari keluarga, judgement yang tidak tepat dst), marital relationship (hubungan dengan suami kurang harmonis), hingga kehamilan yang tidak diinginkan/tidak direncanakan juga bisa menjadi penyebab signifikan munculnya post-partum deppresion.

 

Lalu apa kaitannya post-partum deppresion dengan menyusui?

Kabar baiknya adalah ibu yang menyusui memiliki gejala depresi yang lebih sedikit/rendah dibanding ibu yang tidak menyusui (Hatton dan Dorato, 2005).

Hal tersebut benar saya rasakan, saat menyusui dan mata saya beradu pandang dengan anak muncul rasa tenang dan rileks yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Saran saya saat menyusui tidak sambil menyambi kegiatan yang lain seperti bermain hp atau menonton TV dijamin moment tenang dan rileks itu bakal lebih terasa.

 

Saat anak pertama, pernah ada saat-saat saya mengalami mood swing seperti senewen, kecewa, marah, sedih terutama saat saya mengalami kejar tayang stock ASIP. Pengetahuan saya saat itu seputar ASI masih sangat minim dan membuat saya lalai dalam mengatur waktu memompa asi di sela-sela jam kerja. Akhirnya saya belajar bagaimana strategi memompa asi di sela-sela jam kantor dan saat di rumah. Memang betul ASI itu based on demand semakin sering dikeluarkan maka semakin banyak kuantitas ASI yang dihasilkan. Pelajaran yang saya dapat dari anak pertama adalah kondisi mood swing justru semakin memperparah kuantitas ASI yang dihasilkan.So... usahakan relaks dan kelola emosi dengan baik.

 

Permasalahan kuantitas ASI solved bergulir ke masalah berikutnya, saat kakak dinyatakan kenaikan berat badannya kurang signifikan oleh DSA padahal sudah full ASI. Apa yang salah ya? ternyata salah satu indikator ASI berkualitas dan bernutrisi terlihat dari warnanya yang kekuningan atau putih pucat artinya ASI memiliki kandungan lemak yang cukup. Namun, ASI saya saat itu cenderung jernih walau tetap ada lapisan kental kekuningan tetapi tidak banyak. 


Artinya apa? ada yang kurang dari sisi asupan makanan ibu sehingga mempengaruhi kualitas ASI terlebih saya juga anemia. Oleh karena itu, saya belajar bahwa kuantitas banyak memang bagus tetapi kualitas pun perlu dijaga. 

 



Saya ingat bagaimana dukungan suami sangat membantu di masa-masa sulit tersebut. Suami selalu menghibur misal dengan memijat dengan teknik pijatan oksitosin, mengajak refreshing dengan jalan-jalan, memberikan "me time" bagi saya untuk tidur atau melakukan hal-hal yang saya sukai. 


Saat anak kedua lahir di tahun 2017, saya dan suami bersama-sama "belajar" kembali dengan menghadiri suatu event yang diadakan Kalbe Blackmores Nutrition pada 9 Desember 2017 di Jakarta "Blackmores - Bunda Peduli Asupan Sehat (Bunda PAS)" (klik link untuk informasi lengkapnya ya). Hari itu awal perkenalan saya dengan Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG) sekaligus mendapatkan ilmu teknik hypnobirthing bersama Ibu Lanny Kuswandi. Walaupun saat itu, posisi sudah melahirkan tetapi ilmu dari Ibu Lanny saya ingat sampai sekarang bahwa kesabaran dan ketenangan ibu menjadi kunci terhindar dari stress. Pengalaman saya mengkonsumsi suplemen ini secara rutin membawa perubahan pada kualitas ASI yaitu lebih kental dan berwarna kekuningan artinya ASI semakin bernutrisi.

 



Rahasia Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG) ada di kandungan 17 nutrisi esensialnya yang telah disesuaikan dengan kebutuhan ibu menyusui dan bayi:

  • Tinggi asam folat yang membantu ibu dari resiko anemia
  • Tinggi kalsium untuk pertumbuhan tulang dan gigi buah hati dan mencegah osteoporosis pada ibu
  • Zat besi yang tidak menyebabkan konstipasi sehingga aman dan bantu ibu menjaga energi dan tidak mudah sakit
  • Omega 3/DHA untuk pertumbuhan otak dan mata buah hati. kelebihannya Omega3/DHA ini tidak berbau sehingga tidak menyebabkan mual saat dikonsumsi.
  • Vitamin dan mineral lainnya yang dibutuhkan ibu menyusui.

 

Suplemen seperti ini yang seharusnya didapatkan seluruh ibu di Indonesia untuk mendapatkan nutrisi yang cukup sehingga mendukung terwujudnya generasi yang sehat. Hal yang melegakan berkat kerjasama Kalbe Blackmores Nutrition sebagai produsen PBFG dengan Bumi Sehat Foundation sejak tahun 2017 maka setiap tahunnya 12.000 botol Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold dibagikan ke 3 kota (Denpasar, Aceh dan Papua) secara berkelanjutan membantu pemenuhan gizi ibu hamil dan menyusui.


Saya merasa mengedukasi diri itu sangat penting terlebih bersama-sama dengan pasangan. Rasanya sudah menjadi kebutuhan bagi para ibu dan ayah untuk mendapatkan informasi yang tepat sehingga dapat meningkatkan awareness dalam memberikan ASI bernutrisi dan ASI berkualitas.

 


 

Kabar baiknya, dalam rangka memperingati World Breastfeeding Week 2020, Kalbe Blackmores Nutrition melakukan serangkaian edukasi dan sharing pengalaman seputar ASI dan menyusui melalui akun sosial media Blackmores Indonesia di Instagram @blackmoresid dan website blackmores cuss segera dikepoin ya 😉

 

Jadi, bagi para ibu yang saat ini sedang hamil dan menyusui terutama di masa pandemi covid-19 seperti ini bentengi diri dan perkuat imunitas sangat penting yaitu dengan menambahkan asupan bernutrisi seperti Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold untuk menyuplasi ASI bernutrisi untuk ibu dan bayi yang istimewa. Tentunya jika ibu lancar menyusui dan pertumbuhan bayi baik maka kondisi psikologis ibu dan anak pun jauh lebih tenang dan happy.

 

Produk Blackmores sangat mudah didapatkan di E-commerce Tokopedia, Blibli, Lazada, dan Shopee yang bertuliskan Official Store.

 

Salam bahagia dan bersyukur 💓

Rani Ayuna

 




Friday, May 29, 2020

Secuplik kisah Homeschooling Mama Rani dan Kakak Gibran

1:07:00 PM 1 Comments





Assalamualaikum,

Dulu banget punya impian bisa jadi guru buat anak-anak alias homeschooling! tapi terpentok harus bekerja dan budaya di keluarga yang belum pernah ada namanya homeschooling. Nah, ternyata tidak disangka-disangka ada pandemi virus yang mengharuskan para orang tua semuanya menjadi guru bagi anak-anak di rumah hmm berarti bisa dikatakan homeschooling kan ya versi darurat?

Yipeee i'am happy! bisa terwujud cita-cita jadi pengajar untuk anak-anakku. Tapi.. realita tidak seindah mimpi saya hahaha. Minggu-minggu awal kakak homeschooling, mamanya menemani jarak jauuuh Jogja-Bekasi! Sedangkan si papa minggu awal kakak homeschooling masih kerja on-off alias belum work from home secara penuh. Alhasil mama yang lagi sidang profesi di Jogja juga harus ikut berpartisipasi mandu kakak belajar terpontang panting rasanya saat itu. Emosi naik turun dan pikiran nggak bisa fokus. Wah nggak bisa nih kalau kaya gini dan harus atur strategi.

Pertama, yang saya lakukan waktu itu saya harus penuhi dulu kebutuhan saya dan tuntaskan kewajiban di Jogja Terdengar selfish ya? karena mamanya mentingin diri sendiri dulu. Menurut saya, kebutuhan ibu itu harus dipenuhi dulu lho supaya ibu sehat fisik dan mental sehingga bisa mendampingi anak-anak dengan bahagia. Jadi, saat itu betul-betul fokus menyelesaikan sidang profesi sebaik-baiknya dan H+1 sidang langsung ngebut mengerjakan revisi sesuai catatan dosen pembimbing! iya se-ngebut itu memang demi apa? demi segera selesai dan pulang ke Bekasi menemani anak dan suami.

Minggu-minggu awal itu, saya berusaha sefleksibel mungkin nggak mau ngotot semua harus ideal dan tentunya memberi kepercayaan penuh ke suami untuk menemani belajar dan mengerjakan tugas. Saat suami harus pulang agak malam maka tugas baru bisa dikirim ke guru juga malam jadinya nggak papa yang penting tugas terkumpul dan masih di batas waktu yang diberikan sekolah. Pernah suatu kali, saya ada waktu luang di sela-sela mengerjakan revisi jadi ada kesempatan menemani kakak hafalan surat pendek yang aku pandu secara online dari Jogja by phone, tentunya menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Sekembalinya dari Jogja, rasanya percaya diri banget bisa fokus nemenin kakak homeschooling toh revisian sudah dikirim ke dosen pembimbing nanti kalau ada balasan email tinggal nerusin revisi sambil jalan. Shock kedua terjadi! saat belajar dengan mama yang jadi guru, si anak merasa ini adalah zona nyamanku maka ia bisa seenak hati dan penuh dengan negosiasi.

"Ma.. kok banyak tugasnya (sambil ngitung jumlah lembaran soal)"
"Ma.. hafalannya nanti malam aja ya habis Isya"
"Ma.. aku main dulu deh baru ngerjain ya"
"Ma.. jam main hp ditambah ya"
dan seterusnya

Rehat di sela belajar bareng

Kadang diri ini juga nggak sabar apalagi kalau udah adek ikut ngerengek minta main. Dududu perlu strategi tambahan ini.

Strategi pertama dengan mencukupi kebutuhan ibu dulu tetap aku jalani. jadi, sebelum mulai menemani anak belajar saya mandi dulu, sarapan dulu, balas-balas email/wa yang urgent baru fokus ke anak. Cara ini membantu membangun mood lho. Bayangkan ketika harus menemani anak belajar badan nggak segar, lapar, kepikiran email yang belum dijawab? bikin ruwetkan? Jadi penuhi dulu well being diri sendiri ya.

Nah, ini adalah strategi-strategi berikutnya yang aku temukan dan aku rasa efektif  setelah sekian hari bersama anak 24 jam seperti:
  1.  Jam efektif atau prime timenya anak bisa fokus belajar. Setiap anak pasti berbeda-beda prime timenya apakah pagi/siang/sore/malam jadi kenali lagi anak kita prime timenya kapan?
  2. Keteraturan. Penting banget setelah tahu prime time anak buat jadwal teratur karena yang aku temui ketika jadwal acak-acakan membuat anak bingung dan moodnya jadi jelek. Misal, saat anak lagi main tiba-tiba diajak belajar membangun moodnya akan susah sekali. Berbeda jika, anak sudah paham ada jadwal tertentu yang sudah disepakati bersama misal jadwal pagi belajar dulu kemudian main, makan dan seterusnya tentu akan lebih mudah bagi anak beraktivitas.
  3. Buat catatan. Awal-awal sempat kaget ketika diberikan list materi dari guru khawatir ada yang terlewat. Ini satu tips sederhana tapi membantu meringankan beban pikiran dan keruwetan versi saya ya. Jadi, setiap ada wa masuk dari guru untuk tugas di hari itu langsung saya catat dalam suatu buku sehingga meringankan beban pikiran untuk mengingat-ingat. Setelah selesai satu tugas maka berikan checklist dan seterusnya.
  4. Rehat. Berdasarkan pengalaman saya saat kita mendorong anak segera menyelesaikan tugas bisa membuat anak tertekan dan terbebani yang terjadi hasil belajar menjadi tidak optimal. Maka, rehat sejenak disela belajar itu penting banget. Lihat tanda-tanda anak mulai jenuh biasanya saya menawarkan rehat sejenak untuk makan cemilan atau membaca buku cerita sebentar tetapi sampaikan bahwa setelah rehat kita mengerjakan tugas lagi ya.
  5. Komunikasi dengan guru. Ketika ada pelajaran yang susah dimengerti anak sampaikan saja apa adanya kepada guru. Insya allah guru sudah banyak pengalamannya mengajar berbagai karakter anak-anak bertahun-tahun. Ibu-ibu tidak perlu merasa bersalah dan down ketika gagal mengajarkan suatu pelajaran karena memang ceritanya jadi guru dadakan ya kan? 
  6. Apresiasi dan libatkan anak menentukan reward. Berikan apresiasi kepada anak setelah menyelesaikan tugasnya dengan pelukan dan cium anak kita. Sampaikan juga terima kasih sudah kooperatif belajar sama mama. Nah, kalau anak saya biasanya minta gadget untuk reward. Jika sebelumnya berusaha banget gadget hanya di weekend karena memang weekday gadget (HP) tidak tersedia di rumah karena dibawa papa mamanya bekerja. Di situasi sekarang, saya berusaha lebih fleksibel namun tetap ada aturannya. Dalam satu hari maksimal sekian jam jadi gadget diset setelah waktu habis maka akan terkunci otomatis. Penggunaan waktu ini saya berikan keleluasan ke kakak untuk mengatur biasanya dia mencicil memakai waktu "me time" nya tersebut. Pernah suatu ketika, sepertinya kakak tidak puas dan ingin menambah. Saya mengajaknya bernegosiasi dan membuat kesepakatan tambahan. Bisa ada waktu tambahan asal "..." dan waktunya hanya ".." Nah ini disesuaikan apa baiknya tentunya para orang tua lebih paham ya. Kalau hasil kesepakatan saya dan kakak adalah boleh menambah asal "mengaji sekian lembar" dengan tambahan waktu "sekian menit". Intinya adalah libatkan anak untuk membuat kesepakatan bersama jadi anak merasa memiliki tanggung jawab atas pilihannya. Sungguh sangat berbeda ketika yang disampaikan anak adalah sekedar perintah demi perintah tanpa ada hak anak untuk berpendapat. 
Adek juga nggak mau kalah ikutan homeschooling

Oke, sepertinya ini adalah secuplik pengalaman saya ketika membersamai kakak yang saat ini kelas 1 SD homeschooling di rumah. Semoga bermanfaat bagi para ibu dan para bapak. Tetap semangat, stay safe, stay healthy and stay happy.

Xoxo,
Rani Ayuna



Thursday, April 30, 2020

Menulis sebagai Self Healing

12:54:00 PM 1 Comments
Source: Pexels

Beberapa hari ini saya penasaran sekali dengan yang namanya Writing Therapy. Saya dapat info kalau salah satu teman yang seringkali merasa depresi mendapatkan efek yang positif sekali setelah melakukan journaling setiap harinya. Wah Sebagus itukah dampaknya?

Akhirnya saya mencoba search di Google Scholar ternyata ada 2.5 juta jurnal yang membahas tentang writing therapy, ternyata populer juga riset ini ya. Awal mula dari terapi menulis ini dikenalkan oleh Pennebaker di tahun 1986.

Kalau saya ingat-ingat jaman remaja dulu suka nulis diary sih sampai ada gemboknya supaya nggak dibaca orang lain hehe cuma dulu masih nulis-nulis aja tanpa tahu ternyata dampaknya ke psikologis sepositif itu.

Oke kita mulai bahas yuk.

Hasil dari baca-baca ternyata sejumlah penelitian sudah mengakui bahwa dengan menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam seseorang tentang gejolak emosi dapat secara positif mempengaruhi kesehatan mental dan fisik. Rupanya proses menulis menjadi salah satu tools yang dapat meregulasi emosi yang maladaptif dan memiliki healing power juga. Seseorang yang sedang dalam kondisi depresi cenderung menekan pikiran dan perasaannya dengan adanya terapi menulis menjadi salah satu saluran untuk menuangkan apa yang menjadi bebannya.

Pada salah satu riset terapi menulis, peserta yang depresi diminta untuk menulis tentang pengalaman yang membuat marah secara emosional selama 15-20 menit sehari selama 3-4 hari berturut-turut ternyata hasilnya mereka membuat lebih sedikit kunjungan ke dokter, menunjukkan peningkatan fungsi kekebalan tubuh, peningkatan fungsi biologis dari stress/penyakit lain, peningkatan perilaku, berkurangnya absensi dari pekerjaan, dan mampu bekerja kembali setelah kehilangan pekerjaan sebelumnya. Wow menarik ya?

Lebih lanjut lagi, terapi ini berhasil jika seseorang benar-benar menuliskan perasaan terdalamnya (the deepest) bukan sekedar menuliskan narasi kejadian dari suatu peristiwa (ini berbeda lho). Jadi, benar-benar fokus pada emotional content-nya.

Sisi terapeutik dari menulis sendiri adalah adanya kelegaan karena sudah mengeluarkan emosi yang menyesakkan di dalam diri kita, menerima bahwa kita memiliki emosi tersebut (ya kita merasa sedih/marah/takut saat ini), dan selanjutnya acceptance bahwa merasakan emosi tersebut adalah hal yang wajar dialami manusia dan hal tersebut bukan hanya pada diri kita karena orang lain pun juga merasakan hal yang sama.

Dengan menulis, kita dapat merefleksi diri, lebih mengenal emosi yang ada dalam diri kita, mengklarifikasi suatu peristiwa sehingga membuka pikiran untuk melihat secara lebih objektif dan lebih jernih. Yaa bisa diibaratkan kita sedang menguraikan benang-benang yang kusut ya.

Namun, menulis ini tidak hanya untuk emosi negatif kita juga bisa menuliskan emosi positif  lho. Kita bisa mengawali menulis bagaimana indahnya pagi ini sehingga merasa nyaman dan damai. Inti dari menulis yang terapeutik adalah kita menghentikan kegiatan kita  sejenak dan merefleksi diri. Kita meminta izin kepada diri kita sendiri untuk masuk ke dalam dan mengetahui dimana posisi pikiran dan perasaan kita. Hal yang menyenangkan dari menulis adalah kita memiliki kebebasan untuk mengungkapkan apapun tanpa harus terbebani untuk menyenangkan orang lain, kita bisa menjadi diri kita di ruang kita sendiri dan efeknya kita menjadi lega setelahnya.

Di akhir sesi menulis jurnal pribadi, saya senang mengakhiri tulisan saya dengan kata-kata afirmasi positif dan memberi semangat untuk diri sendiri.

Mau mencoba?

Xoxo,
Rani Ayuna

Reference:
Gortner, E.-M., Rude, S. S., & Pennebaker, J. W. (2006). Benefits of Expressive Writing in Lowering Rumination and Depressive Symptoms. Behavior Therapy, 37(3), 292–303. doi: 10.1016/j.beth.2006.01.004
Kathleen Connolly Baker & Nicholas Mazza (2004) The healing power of writing: applying the expressive/creative component of poetry therapy, Journal of Poetry Therapy, 17:3, 141-154, DOI: 10.1080/08893670412331311352
Marcus, P. H. (2017). Getting Write Into Therapy. Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 56(5), 367–368. doi: 10.1016/j.jaac.2017.01.020






















Thursday, April 23, 2020

Psychological First Aid: Mengenali sumber stress

4:44:00 PM 0 Comments
Pernahkah merasa uring-uringan, marah, cemas, sedih dalam satu waktu tapi kita sendiri tidak tahu kenapa? atau tubuh kita bereaksi tidak sebagaimana semestinya seperti sering kesemutan, otot menegang, asam lambung meningkat? atau tanda-tanda adanya perubahan perilaku seperti ingin menghindar dari kehidupan sosial, seringkali lesu, tidak bergairah untuk menjalankan apapun.


Sinyal-sinyal itu jangan diacuhkan ya jika tidak bisa menjadi boomerang atau bom waktu di masa mendatang. Ketika kita mengalami stress ada 3 kemungkinan tanda yang muncul bisa berupa gejala psikologis, gejala fisik atau perubahan perilaku.


Namun, untuk mengatasi hal-hal yang menganggu tersebut kita perlu mengenali sumber stress dulu ya.  Caranya bagaimana?

Stessor atau sumber stress bisa datang darimana saja bisa karena faktor lingkungan (situasi ekonomi, politik dst), faktor personal (keluarga, ekonomi dst), faktor pekerjaan (tuntutan pekerjaan, hubungan yang kurang harmonis dengan rekan/atasan dst) atau lainnya.

Selain sumber stress, ada hal lain yang turut mempengaruhi yaitu faktor individual differences dan culture.

Contoh perbedaan reaksi karena adanya pengaruh individual differences


Sumber stress: beban pekerjaan tinggi + Individual Differences (melihat sebagai peluang/tantangan) maka ia dapat survive dan justru semakin bersemangat

sebaliknya di orang lain bisa jadi:

Sumber stress: beban pekerjaan tinggi + Individual Differences (melihat sebagai ancaman yang dapat mengurangi kebahagiaan) maka besar kemungkinan justru tidak produktif

Bisa kita lihat sumber stress yang sama bisa dipersepsikan secara berbeda karena adanya  individual differences

Saat ada teman / rekan / anak / suami curhat janganlah sekali-kali langsung menjudge "gitu aja ga bisa" karena setiap orang tidaklah sama

Seringkali seseorang menjadi stress karena sumber daya yang dimiliki tidak memadai untuk mengatasi sumber stress. Oleh karena itu sangatlah penting untuk mengenali darimana sumber stressnya dan apa yang bisa diupayakan untuk mengatasinya.

Oke sudah siap untuk mengenali sumber stress?

  1. Coba kita buat daftar apa saja yang membuat kita uring-uringan dari prioritas tertinggi sampai terendah
  2. Darimana sumbernya? eksternal/internal?
  3.  Kita punya sumber daya apa untuk mengatasi hal tersebut?
  4. Apakah kita bisa mengatasi sendiri atau membutuhkan orang lain?
  5. Apakah kita bisa mengakses informasi yang kita butuhkan?

Tips: Membuat catatan pribadi dalam jurnal akan membantu kita menemukan jalan/solusi dari setiap permasalahan.

Seringkali kita menyerah begitu saja ketika mendapatkan suatu masalah karena kita tidak mencoba memecahnya terlebih dahulu menjadi bagian-bagian kecil dan menyelesaikannya satu per satu.

Yuk kita bisa mencoba melakukan self healing diri kita sendiri dan menjadi pribadi yang lebih tangguh 💓

Sumber Inspirasi dan referensi:
Utami, M. S. (2020). Psychological First Aid. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2017). Organizational Behavior, Global Edition. Harlow: Pearson Education Limited.

Xoxo,
Rani Ayuna