Instagram

Follow @raniayuna

Wednesday, November 1, 2017

Book Review: Bukan Ibu Biasa by Ummu Balqis Part 2 - Cinta pada Secangkir Cokelat

Cinta pada Secangkir Cokelat

Yaps judul postingan blog ini masih serupa dengan postingan blog sebelumnya silahkan baca dahulu buat yang belum ya supaya ceritanya nyambung 😆  (Book Review: Bukan Ibu Biasa By Ummu Balqis Part 1 - Tantrum oh Tantrum) . 

Nah di bahasan yang sekarang saya mau sharing topik favorit kedua yang ada di buku Ummu Balqis ini yaitu Cinta pada Secangkir Cokelat. Kalau dari judulnya sudah pasti berbau-bau romantis ya 💝. Saya merasa kisah yang diangkat dekat dengan kehidupan suami istri sehari-hari yang sering diabaikan dan dianggap biasa saja namun jika didiamkan bisa "membahayakan".

Jika berbicara tahun awal pernikahan pasti yang dibayangkan asyik ya akhirnya tinggal serumah bisa dekat dan tiap hari sayang-sayangan semanis dan seromantis drama korea. Maaf ya jika memupuskan impian para pasangan muda. Tapi nyatanya tidak selalu demikian 😅



Kisah Ummu Balqis di tahun pertama pernikahan

Kisah ini diangkat ketika Ummu Balqis baru menjalani tahun awal pernikahannya. Saya coba kutip sedikit ya..

"Saya cukup bingung dengan kebiasaan-kebiasaan suami yang terkadang bikin gemas. Saya yang suka kerapian tiba-tiba nemu handuk basah di atas kasur, mendapati gelas kosong di kolong kasur, dan kejadian-kejadian sejenis. Duh rasanya pengin marah tapi gengsi"

Simple kan ya masalahnya? serupa? sering terjadikah di rumah? 😂

Saya sendiri berkaca ke pengalaman yang terjadi kurang lebih intinya sama dengan yang diceritakan Ummu Balqis (atau mungkin semua pasangan di awal pernikahan juga mengalami hal ini ya) yaitu "Masa Adaptasi". Jika saya gambarkan ya serupa dengan kejadian "Jet Lag" setelah berjam-jam naik pesawat terus ada perbedaan waktu yang jauh dari negara asal kita.

Tapi tenang masa adaptasi ini jangan dipandang seram ya haha tapi memang membutuhkan perjuangan dari dua belah pihak kalau cuma sendirian pasti "oleng" tuh kapalnya apalagi kalau masing-masing sudah punya visi misi yang berbeda sudah pasti dijamin nggak sampai-sampai ke tempat tujuan.

Saya dan suami sejak menikah memutuskan untuk langsung tinggal berdua walau rumah mertua di kota yang sama. Kami menyewa apartemen tidak jauh dari kantor dan karena kami hanya tinggal berdua maka kami sepakat tidak perlu asisten rumah tangga. Kami pun berbagi tugas mengurus "apartemen kecil kami" mulai mencuci, menyetrika, memasak, bersih-bersih menyapu mengepel, berbelanja keperluan mingguan dan sebagainya. Awalnya kami mengalir saja mengerjakan ini dan itu tapi pasti ada saja yang kurang sreg karena adanya "kebiasaan" yang berbeda yang kami bawa masing-masing dari "kehidupan sebelumnya".

Pada akhirnya seperti ungkapan Ummu Balqis "Pengin marah tapi gengsi" pun sempat hinggap di diri saya. Namanya juga pernikahan menyatukan dua kepala yang berbeda dengan pola asuh atau kebiasaan dari keluarga yang berbeda juga apalagi ditambah beda suku atau mungkin beda kewarganegaraan.

Contoh sederhana, saya terbiasa oleh Mama saya dahulu dimasakkan sayuran yang ditumis dengan kecap atau makanan yang manis ala masakan Jawa. Jadilah saya memasak itu dan saya melihat suami makannya kurang lahap. Kalau saya hanya meratapi bisa saja saya mengambil kesimpulan sendiri misal saya merasa tidak dihargai dan tidak dicintai (nangis di pojok ruangan 😞).

Setelah beradaptasi dan berbicara santai saya jadi tahu kalau suami tidak pernah dimasakkan seperti itu oleh mamanya karena terbiasa dengan masakan Padang yang cenderung spicy. Jadi, memang berbahaya jika kita asal menarik kesimpulan kan? sekarang kalau suami dimasakkan berbau balado ya lahap juga makannya 😉
 
Ummu Balqis sendiri juga menyampaikan bahwa segala sesuatu yang didiamkan berkepanjangan akan memberikan dampak yang tidak baik. Apalagi sang istri cuma mengandalkan kode-kode bahasa isyarat kalau suami peka sih mungkin bisa paham dan mengerti nah kalau suaminya termasuk kurang peka bagaimana? yang ada istri kecewa, sedih, lesu dan merasa tidak dicintai.

Menurut Ummu yang juga saya berikan anggukan setuju, adalah kita (suami dan istri) harus berani mengungkapkan entah dengan tulisan berupa surat cinta seperti yang dilakukan Ummu (duh romantis ya hehe) atau melalui lisan dengan mencari waktu yang tepat dan moment yang sejuk misal dengan minum secangkir cokelat hangat berdua dengan suami di teras rumah sambil kena angin semilir di bawah pohon hmm asyik kan hehe 🌳.

Berawal dari dua cangkir cokelat hangat akan menjadi pembuka untuk bisa saling curhat, kalau bukan curhat dengan suami dengan siapa lagi penjaga rahasia terbaik kita? saya pun menikmati moment curhat berdua ini apalagi kalau ada masalah terkait anak atau asisten rumah tangga rasanya lebih ringan jika dua kepala yang bersatu untuk mencari solusinya.


Jadi, kesimpulannya kita wajib menyiapkan minuman cokelat yang banyak di rumah sebagai pasangan suami istri tidak baik memendam unek-unek sendiri karena tidak akan menyelesaikan permasalahan. Selain, mengungkapkan permasalahan Ummu juga berpesan untuk mengimbangi juga dengan menyampaikan pujian terhadap pasangan 💕.

So, kalau pernikahan sudah terasa hambar, flat dan terasa biasa-biasa saja. Nah mungkin sudah waktunya menyiapkan dua cangkir cokelat hangat dan mengobrol dari hati ke hati dengan pasangan untuk mencairkan kebekuan tersebut agar "rumah" bisa terasa hangat kembali.

Good Luck 😊

Xoxo,
Rani Ayuna


2 comments:

  1. Hehehe... jadi ingat dulu awal nikah masih suka main ngasih kode ke suami berharap beliau mengerti dengan sendirinya. Trus akhirnya karena suatu hal, kami pun bicara dari hati ke hati tentang apa yang kami inginkan. Alhamdulillah sekarang sudah jarang sekali main kode-kodean, sekarang langsung bilang saja kalau sedang apa atau mau apa, hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba kalau dari sisi perempuan pengennya suami bisa langsung dimengerti apa yang dimau padahal kadang suami nggak bisa nangkap signal tersebut sampai ada ungkapan man from mars and woman from venus, jadi lebih baik dikomunikasikan ya :)

      Delete