Instagram

Follow @raniayuna

Monday, October 30, 2017

Book Review: Bukan Ibu Biasa by Ummu Balqis Part 1 - Tantrum oh Tantrum


"Mengasuh bukan mengeluh
Mendidik bukan menghardik"
-Ummu Balqis-

Kalimat di atas yang membawa saya akhirnya memutuskan untuk membawa pulang Buku setebal 177 halaman tersebut. Rasanya membaca kalimat tersebut muncul rasa nyess di dada. Saya yang telah terlahir menjadi seorang ibu selama 4 tahun masih banyak sekali kekurangan dan ilmu. 

Saya pun mencari tahu tentang apa buku ini dan ternyata apa yang inginkan terangkum komplit di dalamnya mulai informasi seputar baby blues syndrome, mengenalkan Allah kepada anak, mendidik anak cinta Alquran, mengatasi Gerakan Tutup Mulut (GTM), Toilet Training, mengajak anak cinta lingkungan sampai mengajarkan pendidikan seks bagi anak. Komplit kan untuk ukuran buku yang tidak setebal novel Harry Potter 😆


Buku ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami, sederhana dan tidak menggurui. Mengapa? karena disajikan dalam bentuk cerita atau pengalaman dari Ummu Balqis. Bahkan, cerita ini diawali dari tahapan yang paling awal saat Ummu dinyatakan hamil hingga memiki dua anak. 

Saya merasa seperti diajak untuk melihat pelajaran dan hikmah dari setiap pengalaman Ummu Balqis dan juga banyak tips-tips yang dibagikan.

Jika diminta memilih ada dua bahasan yang paling saya suka dan paling sering saya ulang untuk membacanya agar selalu saya ingat yaitu "Tantrum oh tantrum" dan "Cinta pada secangkir cokelat".


Pada bahasan "Tantrum oh Tantrum", Ummu bercerita betapa sedihnya Ummu saat melihat seorang ibu yang marah dan memberikan hukuman fisik kepada anaknya dikarenakan sang anak tantrum di minimarket.

Saya sendiri pernah melihat hal-hal semacam ini ketika bepergian ke mall yang menyedihkan sebelas-dua belas dengan cerita Ummu sang ibu memberi hukuman fisik sekaligus berteriak memarahi sang anak di depan umum lebih parahnya lagi karena ada seorang cleaning service yang memperhatikan kejadian tersebut jadilah ikut kena semprot oleh sang ibu tersebut katanya "kenapa lihat-lihat ini urusan keluarga saya" duhhh! si ibu 😐

kalau saya sendiri pengalaman anak tantrum juga pasti pernah apalagi saat si kakak di awal-awal punya adik duh tantrumnya ada di level puncaknya pernah saya sampai menangis di kamar mandi ya sedih kesal dan bingung jadi satu. Emang si kakak marahnya bagaimana? duh nggak bisa diceritakan pokoknya rasanya bikin mamanya broken heart banget.

Jadi, mengapa anak tantrum? Ummu menceritakan bahwa anak tantrum karena si anak menginginkan sesuatu secara menggebu-gebu tetapi sulit untuk menyampaikannya. Sehingga, yang terjadi anak meledak dan menangis. 

Ummu memberikan tips untuk mengatasi tantrum pada anak yaitu:
Pertama, kita harus fokus dan tidak emosi
Kedua, bawa anak ke tempat tenang dan sepi serta jauhkan dari barang yang bisa membahayakan anak dan sekitar (terkadang saat tantrum anak suka melempar barang-barang)
Ketiga, alihkan perhatiannya kepada hal lain / hal yang bisa menarik hatinya
Keempat, jika tetap meronta-ronta berikan waktu anak untuk menangis meluapkan emosi dan tetap berada di sampingnya
Kelima, saat anak tenang mulai peluk, usap punggungnya dan berikan pengertian kepada anak. 

Ummu juga memberikan pesan:
"Bentakan dan pukulan mungkin dengan cepat menghentikan tangisan anak tapi hal itu akan membekas di ingatannya. Kelak ia bisa melakukan hal yang sama karena merasa diperbolehkan menggunakan kekerasan untuk mengatasi masalah"

Saya langsung sedih membayangkan ketika besar anak akan membentak atau naudzubillah memukul karena dahulu pernah diperlakukan sama saat anak masih kecil 😞. Hati ibu mana yang tidak sakit diperlakukan seperti itu ya apalagi mengingat bagaimana perjuangan saat melahirkan dan membesarkan anak. Semua jiwa raga ibu pasti dicurahkan untuk anak kemudian mendapatkan balasan seperti itu 💔 😢.

Dear all mommy, selalu ingat masa seperti ini tidak akan berlangsung selamanya jangan sampai apa yang sudah terjadi sekarang akan menjadi penyesalan kita selamanya. Seperti cuaca akan ada hari hujan yang lebat disertai badai tetapi akan ada waktunya badai itu akan pergi tergantikan dengan pelangi yang indah kan?

Setiap emosi saya sudah memuncak saya selalu teringat anak kecil di depan saya ini yang dahulu saat bayinya saya timang, peluk dan cium. Masa saya tega mau memukulnya? tahan mommies jangan sampai kita kalah dengan emosi.



Nah, kalimat terakhir ini yang menyentuh banget buat saya dan menjadi pengingat supaya bisa menjadi ibu yang sabar, cerdas dan baik. Bahwa anak bukanlah milik kita namun anak adalah titipan yang diberikan Allah SWT.

Buat saya secara pribadi, anak adalah guru terbaik. Saat anak tantrum sebenarnya Allah sedang memberikan ujian "kesabaran" agar kita bisa naik kelas. Saat kita harus mengeluarkan banyak biaya untuk keperluan anak sehingga tidak bisa membeli barang yang kita inginkan sebetulnya kita sedang diuji tentang "keikhlasan". Dan masih banyak lagi pelajaran yang telah diberikan oleh guru terbaik yaitu dari anak kita sendiri.

Dahulu terkadang saya mempertanyakan kepada Allah diawali dengan "Why" kenapa saya yang harus mengalami ini dan itu? tapi sekarang saatnya merubahnya menjadi "What" apa sebenarnya yang ingin Allah ajarkan kepada saya dari situasi yang sedang terjadi?

Selalu bersyukur di setiap situasi, there is always a reason to smile 😊
Jadi, apakah kita sudah siap untuk ujian kenaikan kelas?

Review to be continued di Part 2 membahas satu lagi topik yang paling saya sukai dari Buku Bukan Ibu Biasa By Ummu Balqis yaitu "Cinta pada secangkir cokelat" 😍.

Xoxo,
Rani Ayuna



No comments:

Post a Comment