Monday, September 5, 2016

Bahagia itu Sederhana

Saat saya menulis artikel ini waktu sudah menunjukkan pukul 8.26 PM badan ini sebetulnya sudah letih karena weekend (sabtu-minggu) adalah waktu quality time bersama keluarga. Weekend ini kami menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di taman, berenang, mengunjungi mertua dan banyak kegiatan menyenangkan lainnya aaah indahnya weekend hehe. Badan letih tapi saya masih bersemangat untuk menulis (saat nulis artikel ini pun saya masih sambil senyum-senyum flashback memori dua hari ini ingat bagaimana kami bersenda gurau, terbayang senyuman anak saya dan celetukan spontannya yang lucu). Alhamdulillah nak dapat amanah jagain kamu. 

Jika ada yang bertanya apakah saya bahagia? ya tentu saya bahagia. Lalu bahagia itu apa dan bagaimana cara untuk bahagia? Saya menulis berdasarkan sudut pandang saya ya kalau tidak setuju boleh geleng-geleng kalau setuju manggut-manggut saja hehe. Seperti lirik sebuah lagu favorit saya.



"Bahagia itu sederhana
Hanya dengan melihat senyummu
Ketika dunia seakan mengacuh
Kita bercanda tertawa bersama
Sederhana"
(Lirik Lagu - Wina Natalia and Abdul Coffee Theory)

Ya kurang lebih seperti itu makna kebahagiaan versi saya Bahagia itu Sederhana. Saya merasakan ketika semua serba simple, tidak berlebihan dan needless beban di pundak itu akan terasa ringan. Saya pernah memposting artikel sebelumnya Make it Simple as Posible yaitu ketika saya dihadapkan pilihan saya memiliki baju yang sangat banyak dengan baju sedikit asal cukup, saya merasakan kebahagiaan itu datang justru ketika baju saya sedikit asal cukup. Mengapa? karena saya tahu bahwa baju-baju saya yang sudah saya keluarkan dari lemari sudah berpindah ke orang lain yang mungkin menurut saya baju itu biasa saja dan selalu teronggok di tumpukan dasar lemari (bahkan saya juga lupa punya baju tersebut) bagi orang lain bisa jadi itu menjadi baju terbaik yang dia punya.

Saya sharing contoh lain bahwa bahagia itu yang sederhana versi saya. Saat jam makan siang di kantor, saya dan teman-teman kantor pergi makan siang bersama. Seperti kebiasaan kami sebelumnya, sembari menunggu makanan datang kami sibuk berfoto wefie beberapa kali take sampai dapat angle yang semua oke (yah begitulah perempuan). Setelah kami selesai ber-wefie, kami sibuk mentransfer foto dan sibuk dengan smartphone masing-masing seketika hening krik krik krik. Ada salah satu teman yang sadar bahwa seharusnya kita berkumpul untuk saling mengobrol dan bersenda gurau bersama bukannya sibuk dengan gadget masing-masing. Kami pun sepakat untuk mengumpulkan semua gadget yang dibawa. Apa yang terjadi? suasana menjadi lebih hidup, semua saling mengobrol, sharing, bersenda gurau. See? Bahagia itu sederhana.

Kita bisa bercermin dari kehidupan kakek nenek kita jaman dahulu kehidupan yang serba sederhana disaat kehidupannya masih jarang ada tv, radio, ac, microwave, internet, mall dan lain lain. Mereka hidup dengan nyaman dan bahagia. Saya selalu senang saat bertemu nenek saya karena cerita beliau sangat banyak dan semua yang beliau ceritakan adalah tentang kehidupan yang sederhana. Salah satu cerita beliau yang saya ingat, disaat beliau masih kecil masih jarang ada TV hanya orang kaya yang bisa membeli TV, beliau dan saudara-saudaranya banyak menghabiskan waktu dengan belajar tentang bumbu masakan dengan menebak rempah-rempah misal ini jahe, kencur, kunci dan lain-lain (yang saya sendiri sampai sekarang kadang masih suka tertukar haha). Saya bisa membayangkan keseruan nenek saya dan saudara-saudara perempuannya di dapur. Hasilnya hingga sekarang, masakan nenek saya enak sekali!

Saya pun belum sepenuhnya kembali ke kehidupan yang serba sederhana, ada kalanya saya juga teracuni ingin ini dan itu. Namun entah kenapa saya merasakan ketika saya membeli barang atas dasar ingin bukan butuh, rasa puas dan senang terhadap barang tersebut tidak bertahan lama. Misal, saya datang ke mall sekedar jalan-jalan kemudian ada sale baju branded biasanya saya tertarik karena banyak orang berkerumun (sensasinya beda hehe) ketika saya sudah membeli baju tersebut seminggu dua minggu rasa senang itu sedikit demi sedikit akan memudar (ada yang merasa seperti itu?) beda kalau membeli karena kebutuhan ya.

5 langkah pertama yang saya lakukan untuk mulai menjemput kebahagiaan dari yang sederhana:
  1.  Mulai mencari kegiatan yang lebih banyak interaksi dengan orang bukan interaksi dengan gadget. Ketika ingin mengobrol ya langsung mengobrol bertatap muka bukan mengobrol melalui jari sampai mau senyum juga pakai emoticon hehe (kecuali jika memang posisi orang tersebut jauh). 
  2. Menghabiskan banyak waktu dengan lingkungan sekitar tidak hanya duduk di depan tv. Misal dengan berjalan-jalan di taman. Kita bisa menghirup udara segar dan mengamati sekeliling. 
  3. Ketika berbelanja membeli dengan ukuran yang kecil jika jarang digunakan (Less is more). Misal, saya dahulu suka membeli produk skincare seperti body lotion, body wash, body scrub dengan ukuran sedang sampai besar karena harganya jika dihitung-hitung jadi lebih murah (termakan iklan dan rayuan SPG) padahal barang yang saya beli terpakainya hanya sekali-kali pada akhirnya ketika masa pakainya sudah habis semua barang itu akan teronggok saja di tempat sampah terbuang percuma (biasanya di kemasan tertulis 12M yang artinya 12 bulan setelah kemasan dibuka maka masa pakainya sudah selesai). Jadi, perkirakan dahulu apakah barang yang dibeli adalah barang yang akan digunakan setiap hari atau hanya sekali-kali saja. Apalagi jika khawatir produk yang dibeli tidak cocok maka lebih baik beli yang versi kecil saja.
  4. Habiskan yang sudah ada, melanjutkan Poin 3 karena saya suka membeli beberapa produk serupa tetapi beda merk misal body lotion. Saya mulai berkomitmen untuk menghabiskan yang masih ada dan mengerem untuk belanja barang serupa yang motif belinya hanya karena "ingin" bukan "butuh".
  5. Pilah lagi barang yang 1-2 tahun belakangan sudah tidak tersentuh atau mungkin sudah dilupakan berarti sudah saatnya untuk digunakan orang lain. Kita bisa lebih kreatif dengan mix and match barang yang kita punya. Saya mulai menjadwalkan tiap 3-4 bulan untuk mengecek barang-barang yang sudah jarang saya pakai.
Tentunya masih banyak lagi cara untuk mulai menyederhanakan hidup kita agar kita bisa lebih bahagia dan ringan bebannya. Itulah resep bahagia versi saya. Bahagia itu sederhana. Bagaimana kalau versi kamu?

Xoxo
Rani Ayuna   



9 comments:

  1. Bahagia sederhana versiku adalah ... di kamar, ambil gitar, dengerin lagu kenceng-kenceng atau bisa tidur di hari Sabtu, Mbak. Semuanya itu hal yang langka terjadi soalnya hahahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu me time itu memang berharga sekali ya hehehe :)

      Delete
  2. bahagia versi aku itu bisa balik rumah makan masakan mama :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nahhh itu salah satu moment yang saya tunggu-tunggu juga kalau lagi mudik ke rmh mama di surabaya hehehe :D

      Delete
  3. Bahagia itu menurutku tergantung bagaimana kita menyikapi segala sesuatu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mba setuju, cara kita menyikapi segala sesuatu juga menentukan kebahagiaan apakah dengan emosional atau dengan ketenangan hehe terutama menyikapi anak yang lagi tantrum. Salam kenal ya mba :)

      Delete
  4. Bahagia itu kalau kehadiran kita bermakna dan berguna.
    Bahagia selalu ya Mbak...:) :)

    ReplyDelete
  5. Bahagia itu kalau kehadiran kita bermakna dan berguna.
    Bahagia selalu ya Mbak...:) :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mba, semoga kita selalu menjadi orang yang bisa memberi manfaat bagi sekitar amin :)

      Delete