Instagram

Follow @raniayuna

Friday, December 18, 2015

Cerita di tengah keramaian delay pesawat

Sore itu saya, suami dan anak kami berusia 2 th bergegas datang ke bandara halim untuk pulang ke surabaya menghadiri acara keluarga. kami memang sengaja datang lebih awal dari jam boarding. Sesampainya di ruang tunggu suasana sangat hiruk pikuk dan ramai. Kursi hampir penuh bahkan ada yang duduk melantai dengan cueknya mungkin para penumpang ini sudah lelah menunggu.

Setelah berkeliling kami dapat satu kursi kosong. Suami meminta saya dan anak saya duduk sementara suami berdiri. Dari pengeras suara terdengar informasi bahwa beberapa nomor penerbangan di salah satu maskapai  mengalami delay. Bagian informasi menyebutkan satu persatu seperti mengumumkan pemenang undian doorprize hehe nomor penerbangan yang delay (yaps lebih dari 1!) dan tujuannya pun bermacam macam ada surabaya, yogyakarta dll saya tidak terlalu menyimak semuanya yang saya tahu nomor penerbangan sy juga disebutkan (yasudah diterima saja).


Saya mulai memperhatikan sekitar saya, disamping saya ada satu keluarga terdiri kakek, seorang ibu, dan dua orang anak. Saya tahu salah satu anak mereka berkebutuhan khusus yang disebut down syndrome dulu pernah sy pelajari saat kuliah psikologi, tetapi bukan itu yang menjadi perhatian saya melainkan bagaimana ibu ini memperlakukan anaknya.


Ibu ini sangat perhatian dan terlihat tulus sekali kepada anaknya lebih tepatnya tegar. saat anaknya mulai bertingkah sempat juga memukul pelan ke anak saya. Saya tahu sang anak bukan bermaksud menyakiti anak saya tetapi mengajak bermain dengan caranya. saya hanya tersenyum ke si anak dan menjelaskan ke anak saya kalau kakak ini mengajak bermain. ibu itu sempat meminta maaf dan mengalihkan perhatian si anak. Anak pertama si ibu mungkin berusia 10 tahunan mengambil alih peran sebagai ayahnya menjaga barang, mengambil nasi boks kompensasi delay, menjaga adiknya. Setelah beberapa saat saya tahu sang ayah menunggu di surabaya. Sang kakak sempat berbicara "Bu, kasian ayah ya menunggu lama di surabaya".
 
Satu lagi peran si kakek, ketika cucu berkebutuhan khusus ini bercerita dengan bahasanya yang sulit dimengerti sang kakek sangat antusias menanggapi. seketika itu saya terharu memperhatikan keluarga ini mereka saling support satu sama lain.
Saya coba memperhatikan penumpang lain di sekitar saya, tepat didepan saya seorang  bapak dengan rambut memutih terlihat lelah. Beliau mengenakan jaket tetapi saya masih bisa melihat jelas logo perusahaan di kemeja putihnya perusahaan minyak di Indonesia. Pada awalnya bapak ini sibuk dengan gadget hp dan tabletnya mungkin masih menyelesaikan beberapa pekerjaan. Suatu ketika Bapak tersebut memulai pembicaraan dan menanyakan destinasi kami.

Bapak tersebut bercerita setiap minggu pulang menemui keluarga di Surabaya dan sudah berlangsung seperti ini selama 10 tahun. Pada intinya beliau memberi wejangan bahwa jarak tidak menjadi masalah selama saling memiliki integritas. Hasil bercakap cakap, saya menangkap sepertinya beliau ini memiliki jabatan yang tinggi di perusahaannya, tetapi bukan itu yg ingin saya garisbawahi hehe lalu apa? yaitu cara beliau mendidik anak dengan menerapkan prinsip sederhana walau kondisi keuangan sangat berkecukupan.
Beliau anti melakukan kkn bahkan untuk anak sendiri misal beliau tidak mau memasukkan anaknya ke perusahaan tempat beliau bekerja dari jalur khusus supaya anaknya mandiri dan bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan dengan usahanya sendiri. Salah satu kebetulan ternyata anak beliau saat ini baru saja diterima bekerja satu grup dengan perusahaan tempat saya dan suami bekerja. Saya bangga dan terharu dengan cara beliau mendidik anak. Beliau juga bercerita walau di rumah memiliki beberapa mobil, anak beliau yang masih sekolah di surabaya memilih untuk naik sepeda (langka bukan seperti itu?).
Beliau juga menunjukkan dengan terbuka gadget yang diberikan perusahaannya gadget seri terbaru, beliau menyampaikan ini bahwa gadget itu digunakan betul betul untuk keperluan perusahaan saja dan beliau menggunakan hp lain untuk keperluan pribadi (sembari mengeluarkan hp jadul dan kecil, ya dua hp lama berlayar hitam putih).
Langka?? Ya.. saya kagum dengan kepribadian beliau :)
Tidak lama panggilan boarding pesawat saya. Beliau lalu menyodorkan kartu nama kepada suami.
Di dalam pesawat setelah nyaman duduk saya mulai penasaran dengan kartu nama beliau. Saya dan suami sama sama membaca.. dan ternyata beliau menjabat sebagai direktur di perusahaan minyak di Indonesia. Ya kami berdua saling pandang dan hanya speechless ternyata masih ada sosok pejabat dengan kesederhanaannya. semoga akan banyak sosok sosok seperti beliau. semoga beliau selalu diberi kesehatan dan umur barokah amin yra.
Jadi, pesawat delay jangan dibawa negatif ya banyak pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari sekitar kita.



No comments:

Post a Comment